Senin, 07 April 2014

Pola tumbuh kembang bayi/anak

Pola pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara terus-menerus. Pola urutan dan langkah dalam perkembangan anak ini sudah ditetapkan meskipun setiap orang mempunyai keunikan masing-masing. 
Pertumbuhan fisik akan sidertai pula dengan pertumbuhan psikososial dan diikuti beberapa perkembangan lain. Beberapa sifat tumbuh kembang akan berlangsung seperti berikut.
  1. Directional trends, pertumbuhan dan perkembangan berjalan secara teratur, memiliki kaitan antara fisik dan kematangan sarafnya. Dari arah kepala ke kaki. Misalnya: mengangkat kepala, duduk, kemudian mengangkat dada, dan menggerakan bagian bawah tubuhnya. Menggerakkan anggota gerak yg paling dekat dengan pusat, kemudian baru anggota gerak yg lebih jauh dr pusat. Misalnya: bahu dulu baru jari-jari. Menggerakkan daerah yg lebih sederhana dulu baru kemudian yg lebih rumit. Misalnya: melambaikan tangan dulu kemudian mencoret-coret. 
  2. Sequential trends, Kecenderungan tumbuh kembang dapat diketahui sehingga rangkaiannya dapat diprediksi. Semua anak yang normal melalui setiap tahap ini dan setiap fase merupakan tahapan lanjut dari sebelumnya. Misalnya, bayi mengalami tahapan dari tengkurap kemudian merayap, merangkak, duduk, berdiri, kemudian berjalan. 
  3. Masa sensitif, Ada masa-masa sensitif, yaitu masa ketika anak mengalami keadaan yang sangat peka terhadap rangsangan dan perilakuan lingkungan yang ia terima. 
  • masa kritis, yaitu masa yang apabila tidak dirangsang/berkembang maka hal ini tidak akan dapat digantikan pada masa berikutnya. 
  • masa sensitif, yaitu masa anak amat peka terhadap kejadian tertentu, terutama yang berkaitan dengan penyakit. 
  • masa optimal, yaitu suatu masa yang jika anak diberikan rangsangan optimal akan mencapai puncaknya. 

Menurut Piaget, tumbuh kembang anak meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan mengakses informasi, berpikir logika, memecahkan masalah kompleks menjadi sederhana, dan memahami ide yang abstrak menjadi konkret. Empat tahap menurut Piaget (dua tahap awal itu terpenting) adalah: 
  1. Tahap sensorik-motorik (0-2 tahun). Pada tahap ini, perilaku anak banyak melibatkan motorik. Apa yang ia lakukan belum melibatkan kegiatan mental atau atau belum berpikir. Awal kemampuan berpikir baru terjadi sekitar usia 18-24 bulan. 
  2. Tahap praoperasional (2-7 tahun). Ada dua kategori untuk tahap ini. 

  • tahap prakonseptual (2-4 tahun), anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya. Ini adalah pola pikir egosentris. Pola pikir bayi dibagi atas dua jalur. Pertama adalah transduktif, anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu (pisang berbuah, jadi semua pohon akan berbuah) atau karena ciri2 objek tertentu (rumah dan masjid itu sama karena samaisama punya atap). Pola kedua adalah penalaran sinkretik, tterjadi bila anak mulai selalu mengubah-ubah kriteria klasifikasinya. Mula-mula ia mengelompokkan rumah, masjid, dan gedung sekolah sendiri-sendiri, tapi kemudian mengelompokkannya berdasarkan ukurannya, lalu berdasarkan warna, dan ciri lainnya. 
  • tahap intuitif (4-7 tahun). Pola pikir intuitif ini menggunakan penalaran yang masih kaku, terpusat pada bagian-bagian tertentu dari objek dan semata-mata didasarkan atas apa yang diindra oleh mata (tampak secara lahir) 
      3. Tahap operasional konkret ( 7-12 thn). Ada dua kemampuan, yaitu: 

  • konversi, menunjukkan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila tidak ditambah atau dikurangi maka volumenya tetap. 
  • serasi, menunjukkan anak mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti panjang, tinggi, kecil, warna, dsb. 

     4. Tahap operasional-formal (mulai usia 12 tahun), Anak dapat berpikir tentang objek tanpa harus berhadapan dengan bendanya. Ia dapat melihat sesuatu yang ia pikirkan dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Oleh sebab itu, anak pada usia dini biasanya sudah mulai dapat diajari tentang toleransi. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tumbuh kembang anak 
Anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan ini adalah: 
- ras/etnik atau suku bangsa. Anak-anak dari etnis tionghoa mengalami beberapa perbedaab dibandingkan anak-anak afrika. Demikian juga anak-anak Indonesia sedikit berbeda dengan anak-anak Eropa. 
- keluarga dan genetika. Dari keluarga terbentuklah pola tumbuh kembang anak-anak. Orangtua yang dulunya mengalami perlambatan pertumbuhan rambut memungkinkan menurunkan sifat yang sama pada anak-anaknya. Keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi memiliki anak-anak yang cepat tinggi pula dibanding anak tetangga yang usianya sama tetapi orangtuanya pendek. 
- umur. Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja. 
- jenis kelamin. Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang leih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat. Kematangan emosi juga sedikit berbeda antara jenis kelamin. 
-kelainan kromosom. Kelainan kromosom umunya disertai dengan kegagalan pertumbuhan spt anak yang mengalami down sindroma. 
Selain faktor rsb, lingkungan dan perlakuan yang diberikan kepada bayi juga memengaruhi tumbuh kembangnya. Misalnya, bayi yang cukup gizi berbeda dengan bayi yang kurang gizi.


semoga bermanfaat bunda:) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar